Apalagi ?

Apalagi yang bisa mewakili rasa -saat kata tak mampu aku ucapkan-, selain do’a di sujud malam yang aku bisikkan di sudut sepi kamar. Apalagi yang bisa mendefinisikan rindu yang berharap akan sebuah temu, selain sesak yang menggumpal di dada. Apalagi yang dilakukan seorang wanita dengan nyeri yang tak sudah-sudah, selain menumpahkan samudra makna pada rangkaian aksara yang dicoretnya.

 

Berkalipun aku tulis disini, -kau tetap saja tak akan pernah tahu- bagaimana rasanya menemukan kamu ramai di kepalaku. Kita berdua mungkin mencoba untuk saling melupakan, tapi Hujan seperti tak pernah bosan untuk selalu mempertemukan kita dalam ingatan. Ini memang aneh, Tuan.. seingatku kita tak pernah mempunyai kenangan bersama di saat hujan, tapi kau selalu mampu menjadi tanah yang baunya dapat kurindu setelah hujan. Lalu coba kau artikan, gerutu guntur bersama hujan; semesta juga seperti ikut mengejek -rindu yang tak mau pergi- dari hujan yang lebih dulu turun di mataku.

 

Jadi coba beri tahu, apalagi yang bisa dilakukan aku, selain menunggumu dalam penantian yang lugu?

 

– Giovanny Putri Andini

Palembang, 19 Januari 2014

9:26 AM

saya temukan mengusang di draft. Sepertinya representatif dgn kondisi hati belakangan ini.

Advertisements

Lari. Aku ingin pergi jauh. Tapi kemana, sedangkan aku tak punya tempat yang ingin dituju selain pelukmu. Sebab entah bagaimana ceritanya, kamu telah menjadi rumah tempat rinduku pulang.

Telah masuk tahun ketiga aku mempelajari ilmu psikologi, dan aku baru menyadari bahwa tak ada orang yang lebih sakit jiwa dari pada mereka yang jatuh cinta. Dan sekarang vonis itu jatuh kepadaku. Aku seperti kehilangan akal sebab rindu. Benci… aku ingin lari, tapi kemana? Sebab sudah kukatakan sejak awal. Nyatanya tak ada tempat yang paling ingin kutuju selain pelukmu.

Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Tapi aku bisa apa?

Benci. Aku benci. Ingin lari. Tapi kemana?
Ingin menangis. Tapi untuk apa?

Aku mencintaimu. Lalu bagaimana?

Yogyakarta, 13 Oktober 2016.
8:53 AM.